Setelah setahun tanpa ibu

    Dihari kehilangan ibu kemarin, aku rasa semuanya cukup baik dan akan baik-baik saja. Aku senang, setidaknya Tuhan memang sayang orang-orang baik macam ibu. Mungkin, Tuhan juga mulia muak lihat manusia-manusia yang seenaknya tanpa memikirkan perasaan ibu.

    Tapi makin kesini, aku baru sadar kalau ternyata aku gak sekuat itu. Ternyata semakin dewasa aku semakin rapuh. Terutama, dibeberapa bulan belakangan ini, Bu. Mungkin, harapan kemarin, doa-doa kemarin seperti Tuhan kabulkan. Sayangnya, pencapaian itu seharunya aku serahkan untukmu, bukan untukku.. atau kebanggaan keluarga yang lain.

    Aku mulai kehilangan tujuanku kenapa aku akhirnya memutuskan untuk bertahan dan terus hidup. Jika dianalogikan, eh tidak.. diibaratkan mungkin, oh tidak juga. ya tepatnya, ingin yang aneh dan juga ambigu. aku tak ingin hidup, tapi aku tak ingin mati.

    Rasanya, aku punya tanggung jawab untuk menjaga ayah, kakak dan juga adik. Harus siap menjadi tempat keluh dan rasa khawatiar mereka terutama ayah. Aku ingin menangis, mengasihani diriku yang seperti mayat hidup. Tapi rasanya, mengasihani diri sendiri saja aku sudah tak mampu.

    Aku mulai merasa terlalu berantusias berkelana tanpa rasa, tidak tulus, juga tidak palsu. Kau tau, hal yang mungkin menohok hingga kini tetap ada, yaitu bagaimana seseorang mengatakan bahwa, kau cukup pulang kesajadahmu, dengan banyak cinta yang mereka dapatkan. Sementara aku, ya... mungkin hanya pikiran bodohku saja tentang bagaimana aku menilai bahwa manusia tetap membutuhkan manusia lainnya untuk bertahan.

    Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang bu? apakah aku harus menyerah dulu? tapi, bu. Rasanya sulit untuk beristirahat walau sejenak. Benar katamu, andaikan ada cara untuk tidak berpikir kecuali mati. hahahha...

    Belakangan ini, kesehatanku juga tidak lekas membaik. Aku juga tidak paham, aku ini sakit atau apa hahhaha. apakah sebelum kepergianmu, kau juga merasakan hal yang seperti yang aku rasakan Bu? jika iya, bukannya waktu itu seharusnya kau berbagi banyak hal kepadaku? bagaimana bisa kau meninggalkanku dengan harpan begitu tinggi bisa membahagiakanmu disini?

    Percayalah, aku tidak pernah menyalahkan Tuhan tentang apa yang kini terjadi di keluarga kita. Tapi, Bu. apakah kau tetap baik-baik saja mendengar ceritaku dari Tuhan kala aku benar-benar pernah terluka? tidak pa-pa, Bu. aku baik-baik, saja. semoga.

Komentar

Postingan Populer