INNER CHILDMU BUTUH KAMU
INNER CHILDMU BUTUH KAMU
Saat ini, banyak yang menyinggung
mengenai Inner Child. Bahkan beberapa orang berpendapat bahwa Inner
Child adalah anak kecil yang tidak ikut bertumbuh menjadi dewasa di dalam
diri setiap orang. Hingga timbulah banyak pertanyaan mengenai Inner Child
itu sendiri, seperti apakah Inner Child dapat mempengaruhi Psikologi
seseorang? atau apakah Inner Child sangat mempengaruhi seseorang dalam
mengambil keputusan? hingga pertanyaan apakah Inner Child itu dimiliki
oleh semua orang dewasa? Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
mari kita sama-sama menyimak sebenarnya, apa itu Inner Child?
Inner Child merupakan
sifat dan sikap kekanak-kanakkan yang terbentuk karena pengalaman dimasa lalu
dan masih melekat pada diri setiap orang walau sudah menginjak usia dewasa.
Oleh sebab itu, Inner Child pada setiap orang tidaklah sama. Inner
Child sendiri tidak hanya terjadi pada mereka yang mempunyai trauma berat
di masa lalu. Inner Child juga dialami oleh setiap individu dalam
keadaan sadar maupun tidak sadar. Banyak orang yang tidak yakin dengan adanya Inner
Child dikarenakan Inner Child tidak berdampak pada fisik seseorang
melainkan berdampak pada psikologis seseorang. Di samping itu, Inner Child
menjadi salah satu komponen yang dapat membentuk karakteristik pada diri
seseorang. Oleh karenanya, kita harus terhubung dengan Inner Child yang
ada pada diri kita.
Sayangnya banyak orang yang tidak sadar akan
pentingnya terhubung dengan Inner Child-nya, padahal Inner child
mampu menggenggam erat ingatan dan emosi yang pernah terjadi di masa lalu,
hingga menyerap energi negatif dari trauma yang terjadi. Akhirnya, energi
negatif tersebut melukai Inner Child. Saat Inner Child terluka, ia akan
mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan dan menjalin hubungan dengan
orang lain. Adapun beberapa hal yang menjadi penyebab Inner Child
terluka yaitu :
a. Kehilangan
orang tua atau wali dan keluarga terdekat.
b. Kekerasan
fisik, emosional, atau seksual.
c. Pengabaian.
d. Penyakit
serius.
e. Perundungan
atau bullying.
f.
Bencana Alam.
g. Perpecahan
dalam kelurga.
h. Kekerasan
dalam rumah tangga.
i.
Terpisah dari keluarga.
j.
Ada anggota kelurga yang memiliki gangguan mental.
k. Ada anggota
kelurga meminum atau menggunakan zat-zat terlarang.
l.
Hidup di pengungsian.
Namun,
mungkin sebagian dari penyebab ini tampak wajar terjadi pada anak-anak, tetapi
jika saat itu ia harus menghadapi sendiri, maka perkembangan pada diri
seseorang menjadi terpengaruh dan besar kemungkinan Inner Child yang ada
pada dirinya terluka.
Salah satu
tanda Inner Child sedang terluka bisa dilihat melalui cara pandang seseorang
terhadap dunia. Contoh kasusnya, seperti seseorang merasa bahwa dunia bukanlah
tempat yang aman, bisa saja ada trauma masa kecil yang teramat mendalam dan
melukai Inner Child-nya. Berikut adalah beberapa ciri-ciri yang dapat
dikenali ketika Inner Child terluka :
1. Merasa ada
yang salah pada dirinya.
2. Selalu
berusaha menyenangkan semua orang.
3. Terkadang
merasa senang jika bermasalah dengan orang lain.
4. Susah move
on dari orang lain.
5. Seringkali
merasa cemas jika dihadapkan dengan sesuatu yang baru.
6. Merasa
bersalah jika memberikan batasan atas dirinya kepada orang lain.
7. Selalu
berusaha menjadi yang terdepan.
8. Perfeksioanis
9. Sering
kesulitan dalam memulai dan menyelesaikan tugas.
10. Selalu
mengkritik diri sendiri.
11. Sering merasa
malu saat harus menunjukkan perasaan.
12. Malu dengan
bentuk tubuh sendiri.
13. Sering
menaruh curiga pada orang lain.
14. Berusaha
menghindari konflik bagaimanapun caranya.
15. Takut
ditinggalkan.
Karena
pengalaman menyakitkan yang telah didapat, seperti kekerasan dimasa kecil,
mengalami pengabaian dari orang tua, dan kurang mendapat kasih sayang orang
tua, akhirnya Inner child-nyapun terluka hingga mempengaruhi
psikologisnya seperti menjadi pribadi yang pemarah, tidak punya empati dan
cenderung dapat melakukan kekerasan di kehidupan dewasanya. Oleh sebab itu,
penting untuk mengatasi Inner Child yang sedang terluka, karena jika
tidak diatasi bisa menimbulkan masalah dikemudian hari.
Adapun
beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi atau berdamai dengan Inner
Child diantara :
a. Bangun
kepercayaan. Inner Child membutuhkan dukungan. Oleh karenanya kita perlu
belajar untuk memvalidasi perasaannya dan tidak meninggalkan atau melupakannya
agar ia percaya kita akan ada untuknya.
b. Validasi.
Pahami, sadari, dan terima bahwa kita pernah terluka. Luka di masa lalu yang
mungkin disebabkan oleh orang lain. Boleh jadi, orang yang melukai kita juga
pernah terluka. Jika kita masih menolak dan tidak menerima luka yang terjadi
dimasa lalu, kita akan kesulitan untuk berdamai dengan Inner Child kita.
c. Validasi
perasaan seperti marah, sedih, kesepian, dan perasaan lainnya. Setelah berhasil
memvalidasi perasaan kita, kita akan mampu jujur pada diri sendiri dan tidak
menutupi diri kita dengan diri yang lain. Saat kita berhasil berdamai dengan
perasaan terburuk yang ada pada diri kita, kitapun akhirnya mampu keluar dari
lingkaran negatif dan menjadi diri kita sebenarnya.
Proses
menerima dan berdamai dengan diri sendiri tidaklah mudah. Walau kita merasa
dapat melaluinya sendiri, kembali pada hakikatnya kita sebagai manusia, dimana
kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan pertolongan orang lain. Pengalaman
sedih, takut, malu, tertinggal, kesepian, ataupun luka lainnya yang terjadi
dimasa kecil dan belum terselesaikan dapat berdampak pada emosional seseorang
dimasa yang akan datang. Sehingga, dapat menimbulkan perilaku maladaptif yang
akhirnya mengganggu produktivitas serta keberfungsian sebagai seorang individu
pada seseorang. Jika hal itu tidak dapat diatasi sendiri, sangat penting untuk
kita berkonsultasi kepada psikolog/psikiater agar dapat penanganan yang tepat.
WHO sendiri mendefiniskan sehat bukan hanya meliputi kondisi fisik pada
seseorang melainkan kesejahteraan menyeluruh yang meliputi fisik, mental, dan
sosial. Untuk itu, untuk menjaga kesehatan kita juga perlu memperhatikan
kesehatan mental kita dengan sebaik-baiknya seperti kita memperhatikan kesehatan
fisik dan sosial.
Referensi :
Hapsari, Annisa. 2021. Mengenal Inner Child yang Menetap Hingga
Dewasa, Serta Cara Mengatasi Luka yang Tertinggal, ( https://hellosehat.com/mental/inner-child/
), diakses pada tanggal 11 Januari 2021.
Dean, Mary Elizabeth. 2021. Healing Your Inner Child ,
(https://www.betterhelp.com/advice/therapy/inner-child-what-is-it-what-happened-to-it-and-how-can-i-fix-it/ ), diakses pada tanggal 20 Desember 2021.
Asavasthi, Novita. 2020. Kenali, Sadari, dan Atasi Luka Inner
Child, ( https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3644446/kenali-sadari-dan-atasi-luka-inner-child
), diakses pada tahun 2021.
Sills, Davia. 2018. Deep Secrets and Inner Child Healing,
( https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-empowerment-diary/201808/deep-secrets-and-inner-child-healing
), diakses pada tangga 6 Agustus 2018.
https://www.rspermata.co.id/articles/read/memahami-innerchild:-bagian-diri-yang-sering-terabaikan
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar