TUHAN ITU ADIL
TUHAN ITU ADIL
Kehilangan seseornag yang penting di dalam hidup
bukanlah sebuah pilihan yang harus dipilih manusia dalam menjalankan kehidupan.
Tapi, kehilangan seseorang untuk selamanya merupakan suatu kenyataan yang
nantinya akan menjadi sebuah keputusan bagi manusia untuk berlaku ikhlas.
Begitulah yang dirasakan oleh Bondan, anak Sumatra yang ditinggalkan ibunya
ketika ia berhasil menyelesaikan Pendidikan S1-nya di Yogyakarta. Dering
telepon di tengah malam berhasil membuat kaki Bondan tidak mampu menopang berat badanya. Berita duka dari sebrang membuatnya terpukul luar biasa.
Di hari wisuda yang sepatutnya menjadi momen
kebahagiaan bagi setiap orang, justru menjadi momen biru bagi Bondan. Air mata
yang terus mengalir, membuat Bondan mencoba menguatkan diri dengan melakukan
kesibukan ditengah malam, entah apa yang dilakukannya, yang pasti ia berusaha
untuk lupa. Karena untuk pulang kekampung halaman, rasanya berat sekali mengingat biaya yang begitu tinggi.
“ Bondan Ari Widyanto, lulusan terbaik Jurusan
Kedokteran dengan IPK 3,98. Putra dari Ibu Ayu widyanto dan Bapak Amrul Syahid
Widyanto,” terdengar gema suara di aula berbentuk seperti studion lapangan bola
di Universitas Gadjah Mada. Membuat Bondan seperti ditampar habis-habisan oleh kenyataan, toga
yang digunakan terasa begitu berat. Hingga membuat Bondan tak mampu berdiri rasanya untuk membawa toga kemimbar kebanggaan. Dengan kaki yang terdayuh, Bondan tetap
berusaha tegar dan terus berusaha menahan air matanya.
“ Assalammualaikum wr, wr. Kata orang, wisuda
merupakan momen sakral Bahagia dan juga mengharukan bagi setiap orang. Tapi,
entah bagaimana wisuda menjadi momen yang menyakitkan bagi saya pribadi. Hari
ini, tidak ada yang mendampingi saya mendapatkan gelar kehormatan yang diberika
universitas kepada saya. Ayah dan keluarga sibuk mengurusi pemakaman ibu saya
hari ini. Semalam dengan bangga saya menggunakan toga di depan cermin, sebelum
kabar duka itu sampai ke telinga saya. Kabar dimana Saya harus wisuda tanpa
bisa melihat senyum dari orang yang amat saya cintai. Berdirinya saya disini,
rasanya seperti dicabik-cabik oleh semesta. Entah apa yang dimaksud dalam
kejadian kali ini, entah saya harus Bahagia atau semacamnya saya juga tidak
paham. Tapi bagaimanapun, saya berterima kasih kepada Univeristas karena sudah
mempercayai saya menjadi salah satu mahasiswa terbaik di fakultas kedokteran.
Tanpa mengurangi rasa hormat, Saya ucapkan terimakasih kepada ayah yang sudah
senantiasa mengupayakan segala hal untuk menguliahkan saya hingga saya
menjadi sarjana. Berdirinya saya disini juga tidak akan pernah luput dari doa
ibu saya tercinta. Kepada Ibu yang insyaAllah Sudah Bahagia disurga, terima
kasih Sudah membesarkan saya dengan baik, sampai jumpa di pertemuan paling baik
menurut Tuhan. Pesan untuk teman-teman, jangan pernah sia-siakan orang-orang
yang mencintai kalian. Karena, mereka hanya ada satu didunia, dan tidak akan
pernah bisa kamu dapatkan gantinya”.
***
Menjadi lulusan terbaik, bukanlah jalan baik untuk
Bondan mendapatkan kerja di Kota Pendidikan ini. Kehilangan ibu, membuat Bondan
juga hampir kehilangan harapan akan hidup, Ia merasa bahwa Tuhan tidak adil
karena sudah merenggut kebahagiaanya. Banyak pertanyaan yang muncul
dikepalanya, membuat ia bahkan tak punya energi untuk terus hidup. Ya..
begitulah kenyataannya, tak semua orang mampu menghadapi takdir dengan baik.
Banyak dari mereka masih tidak mampu menerima apa yang sudah di gariskan oleh
Tuhan. Banyak dari mereka bertanya, kenapa harus aku? Dan masih banyak kenapa-kenapa
yang bahkan tak mampu mereka temukan jawabnya. Namun begitu, bukan berarti
Bondan tidak melakukan apapun di dalam hidupnya. Ia tetap berusaha tapi tidak
lagi mampu secara optimal, hingga ia juga memilih untuk tidak pulang kekampung
halaman. Menurutnya, pulang kekampung halaman adalah tindakan sengaja untuk
berwisata di padang pasir yang penuh dengan ranjau.
Walau beribu kali ayahnya memohon, Bondan tetap keras
kepala untuk tidak pulang ke kampung halaman. Dengan alasan yang bahkan
terkadang tidak masuk akal. Namun, keluarganya juga paham, bahwa luka yang
Bondan rasakan butuh waktu untuk terobati. Setahun delapan bulan
pontang-panting mencari pekerjaan, akhirnya Bondan diterima diperusahaan swasta
milik sahabatnya, dengan nilai yang baik, Bondan mendapatkan posisi yang
lumayan tinggi diperusahaan. Dan diperusahaan inilah, Bondan bertemu dengan
Sinta, Gadis cantik asal Bandung yang baik, santun dan mampu meluluhkan hati
Bondan.
Sinta sendiri merupakan gadis cantik asal Kalimantan
Selatan yang menjadi asisten pribadinya Bondan di perusahaan tempat Bondan
bekerja, Sinta sangat baik dalam menjalankan tugasnya dan hampir tidak pernah
mengecewakan Bondan. Pada suatu hari, tidak sengaja Bondan berpapasan dengan
Sinta di halte bus, kerena arah tempat tinggal mereka memang searah jadi, wajar
saja jika Sinta dan Bondan sering bertemu di Halte Bus yang sama. Mereka begitu
banyak mengobrol, dari hobby bahkan harapan mereka kedepannya.
Sampai pada masa Bondan memutuskan untuk menghalalkan
Sinta. Ketika niat baik itu disambut baik oleh Sinta. Bondan memutuskan terbang
ketanah Kalimantan untuk berkunjung kerumah Sinta, Bondan dibuat terkejut
karena ternyata Sinta merupakan anak yatim Piatu. Tanpa banyak bertanya,
Sintapun paham makna dari tatapan Bondan, “ Ya begitulah, aku merupakan anak
yatim piatu. Aku ditinggalkan oleh ayah dan ibu ketika aku wisuda Sarjana, Ayah
dan Ibu merupakan salah satu korban pesawat jatuh ketika akan berangkat
menyusulku ke Yogyakarta. Pada hari itu, aku benar-benar terpukul, aku tidak
tau harus apa, aku tidak mampu menggerakkan kakiku rasanya, aku sempat bertanya
pada Tuhan kenapa harus aku, tapi setelah aku melaksanakan sholat tahajjud, aku
paham, bahwa Tuhan tidak pernah salah menaruh kepercayaan. Aku percaya Tuhan
adil pada setiap hidup hambanya. Jika kebahagiaanku di masa depan bukan bersama
orang tuaku, mungkin kebahagiaanku bersama kamu Mas. Aku tau, kehilangan ibu
bukanlah hal mudah bagi seorang anak, tapi yang perlu kamu ingat, Tuhan tak
akan pernah salah menaruh kepercayaannya kepada siapa. Ikhlaskan apa yang sudah
ditakdirkan, berjumpa denganku, dan berdamai dengan keadaan. Pulanglah,
kenalkan aku ke ayah dan saudaramu”.
Bondan menangis dihadapan Sinta, ia sadar betapa
egoisnya ia selama ini. Padahal, yang terluka bukan hanya dirinya, sepatutnya
ia mengutkan ayahnya, bukan malah memberikan luka baru kepada ayahnya.
.jpg)
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar